Berkomunikasi dengan Tuhan dalam Doa

    Berkomunikasi dengan Tuhan dalam Doa

    Kita adalah putra dan putri Allah, Bapa Surgawi kita, yang mengasihi kita dan mengetahui kebutuhan kita. Dia ingin kita berkomunikasi dengan-Nya melalui doa—berdoa kepada-Nya dan bukan kepada siapa pun yang lainnya. Tuhan kita Yesus Kristus mengajari kita bahwa “kamu mesti selalu berdoa kepada Bapa dalam nama-Ku;”1 kita akan mengenal Bapa Surgawi kita dengan lebih baik dan menjadi semakin dekat dengan-Nya ketika menghampiri Dia dalam doa menjadi suatu kebiasaan dalam kehidupan kita. Hasrat kita akan menjadi lebih seperti milik-Nya. 

    Saya ingat ketika misionaris pertama kali mengajari saya cara berkomunikasi dengan Bapa Surgawi, mereka mengajari saya empat langkah untuk mengucapkan doa. Selain keempat langkah tersebut, saya tidak memiliki pemahaman yang dalam mengenai doa ketika itu. Karenanya, kebanyakan doa saya adalah bagaikan “mengangkat telepon dan memesan belanjaan … menyebutkan pesanan [saya] dan menutup telepon” 2 atau “hanya seruan tak beraturan pada saat krisis … jadi menganggap Allah sebagai tukang servis atau agen jasa untuk membantu [saya] hanya dalam keadaan-keadaan darurat [saya].“3 Sewaktu saya tumbuh dalam Gereja melalui pembelajaran lebih lanjut dari tulisan suci dan ajaran para pemimpin Gereja kita, saya telah memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai sikap yang bagaimana yang hendaknya saya miliki ketika berkomunikasi dengan Allah dalam doa.

    Presiden Hinckley mengajarkan, “Kita perlu bermeditasi, merenungkan, memikirkan mengenai apa dan untuk apa kita berdoa dan kemudian berbicara dengan Tuhan seperti satu orang berbicara kepada yang lainnya.”5 Nabi Mormon juga memperingatkan bahwa jika siapa pun “akan berdoa tetapi tidak dengan maksud hati yang sungguh-sungguh; ya, dan itu tidak menguntungkan dirinya apa pun, karena Allah tidak menerima yang demikian.”6 Agar memiliki doa yang bermakna, kita harus rendah hati dan berdoa dengan ketulusan serta “dengan sekuat tenaga hati.”7 Kita juga belajar dari Juruselamat kita bahwa kita harus berhati-hati untuk menghindari “bertele-tele” ketika kita berdoa.8

    Ketika kita mengupayakan bimbingan dan kekuatan Bapa Surgawi dalam segala yang kita lakukan, kita hendaknya mengambil nasihat Alma kepada putranya, Helaman, sebagai nasihat yang baik bagi diri kita sendiri. “Berserulah kepada Allah untuk segala tunjanganmu; ya, biarlah semua perbuatanmu bagi Tuhan, dan ke mana pun engkau pergi biarlah itu di dalam Tuhan; ya, biarlah semua pikiranmu diarahkan kepada Tuhan; ya, biarlah kasih sayang hatimu ditujukan kepada Tuhan selamanya. Berundinglah dengan Tuhan dalam segala perbuatanmu, dan Dia akan mengarahkan engkau demi kebaikan; ya, ketika engkau berbaring pada malam hari berbaringlah bagi Tuhan, agar Dia boleh mengawasimu dalam tidurmu; dan ketika engkau bangun pada pagi hari biarlah hatimu penuh dengan ungkapan terima kasih kepada Allah; dan jika kamu melakukan hal-hal ini, kamu akan diangkat pada hari terakhir.”9 

    Bapa Surgawi berharap kita melakukan lebih daripada sekadar meminta kepada-Nya berkat-berkat. Dia sering mengharuskan kita untuk “menelaahnya dalam pikiran [kita]” sebelum Dia akan memberi kita jawaban. 10 Jika kita berdoa memohon bimbingan, Dia akan berharap kita menjadi reseptif terhadap bisikan-bisikan Roh Kudus. Jika kita berdoa bagi kesejahteraan kita sendiri dan bagi kesejahteraan orang lain, doa kita masih akan sia-sia jika kita “menolak yang membutuhkan, dan yang telanjang, dan tidak mengunjungi yang sakit dan yang sengsara, dan memberikan harta kekayaanmu, jika kamu miliki, kepada mereka yang berada dalam kebutuhan.”11 Bapa Surgawi akan membantu kita dalam segala ikhtiar kita yang saleh, tetapi Dia akan jarang melakukan sesuatu bagi kita yang dapat kita lakukan sendiri. 

    Presiden James E. Faust mengajari kita bahwa “banyak doa diucapkan ketika kita berlutut … tetapi doa hati yang hening juga mencapai surga. Kita melantunkan, ‘Doa cetusan hatiku, diam atau bersuara.’ 12 … Yeremia menasihati kita untuk berdoa dengan segenap hati dan jiwa kita.13 Enos menuturkan kembali bagaimana jiwanya telah merasa lapar dan bahwa dia telah berdoa sepanjang hari. 14 Doa beragam dalam intensitasnya. Bahkan Juruselamat ‘makin sungguh-sungguh berdoa’ pada saat kepedihan-Nya.15 … Berkat yang diupayakan melalui doa terkadang memerlukan kerja, usaha, dan ketekunan di pihak kita. 

    “Misalnya, terkadang berpuasa adalah pantas sebagai bukti yang kuat akan ketulusan kita. Sebagaimana Alma bersaksi kepada orang-orang Zarahemla: ‘Aku telah berpuasa dan berdoa berhari-hari agar aku boleh mengetahui hal-hal ini bagi diriku sendiri. Dan sekarang aku tahu bagi diriku sendiri bahwa itu adalah benar; karena Tuhan Allah telah menyatakannya kepadaku oleh Roh Kudus-Nya.’16 Ketika kita berpuasa kita merendahkan jiwa kita,17 yang membawa diri kita lebih selaras dengan Allah dan tujuan-tujuan kudus-Nya.”18

    Doa adalah suatu komunikasi dua arah. Sewaktu kita mengakhiri doa kita, kita hendaknya meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan mendengarkan. Saat seperti itu adalah perlu bagi Bapa Surgawi untuk menasihati, membimbing, atau menghibur kita sementara kita berlutut. Tanggapan-Nya sering kali datang melalui suara Roh Kudus yang tenang dan lembut atau, bergantung pada keadaan kita, itu dapat juga datang melalui tindakan-tindakan kebaikan dari mereka di sekitar kita. 

    Terkadang kita mungkin merasa bahwa kita tidak layak untuk berkomunikasi dengan Bapa Surgawi. Nefi mengajari kita bahwa “…. Karena jika kamu akan menyimak Roh yang mengajari orang untuk berdoa kamu akan mengetahui bahwa kamu mesti berdoa; karena roh jahat tidak mengajari orang untuk berdoa, tetapi mengajarinya bahwa dia mesti tidak berdoa.”19 Setan selalu ingin menggoda atau meyakinkan kita bahwa kita seharusnya tidak berdoa. Namun, Juruselamat kita telah mengajari kita, “Berdoalah selalu, agar kamu boleh keluar sebagai penakluk; ya, agar kamu boleh menaklukkan Setan, dan agar kamu boleh lolos dari tangan para hamba Setan yang menyokong pekerjaannya.”20 Kita hendaknya membiarkan “hati [kita] penuh, tercurah dalam doa kepada [Allah] secara berkelanjutan”21 di mana pun kita berada. Kita dapat dalam hati mengungkapkan rasa syukur kepada Bapa kita dan memohon kepada-Nya untuk memperkuat kita dalam tanggung jawab kita, dan membantu kita pada masa-masa godaan atau bahaya jasmani.

    Saya bersaksi bahwa saluran komunikasi kita dengan Bapa Surgawi terbuka setiap saat. Tidak ada wewenang duniawi yang dapat memisahkan atau menghentikan kita dari memiliki akses langsung kepada Bapa Surgawi kita. Tidak akan pernah ada kerusakan mekanis maupun elektronik ketika kita berdoa. Tidak ada batasan berapa kali atau berapa lama kita dapat berdoa setiap hari. Tidak ada kuota mengenai jumlah kebutuhan yang dapat kita mintakan atau doakan dalam setiap doa. Dia dapat dijangkau kapan pun dan dari mana pun. Saluran komunikasi dengan Bapa Surgawi dapat terhambat hanya ketika kita memilih untuk tidak berkomunikasi dengan Dia atau, ketika kita telah berdosa sehingga kita tidak dapat mendengarkan bisikan Roh Kudus. Pertobatan adalah cara untuk menghilangkan semua hambatan dalam saluran komunikasi kita dengan Bapa Surgawi. Saya bersaksi bahwa Bapa Surgawi mengasihi kita dan Dia senang berkomunikasi dengan anak-anak-Nya, dalam nama Yesus Kristus, amin. ■ 

    Caption

    1 3 Nefi 18:19.

    2 Lihat Teachings of Gordon B. Hinckley (1997), 469.

    3 Lihat Howard W. Hunter, The Teachings of Howard W. Hunter, diedit oleh Clyde J. Williams [1997], 39.

    4 Teachings of Gordon B. Hinckley (1997), 469.

    5 Howard W. Hunter, The Teachings of Howard W. Hunter, diedit oleh Clyde J. Williams [1997], 39.

    6 Moroni 7:9. 

    7 Moroni 7:48.

    8 Lihat Matius 6:7. 

    9 Alma 37:36–37; lihat juga Alma 34:17–26.

    10 Lihat Ajaran dan Perjanjian 9:7–8.

    11 Lihat Alma 34:27–29.

    12 “Doa Cetusan Hatiku,” Nyanyian Pujian, no. 59.

    13 Lihat Yeremia 29:13. 

    14 Lihat Enos 1:4.

    15 Lukas 22:44. 

    16 Alma 5:46.

    17 Lihat Mazmur 35:13.

    18 James E. Faust, “The Lifeline of Prayer,” Ensign, Mei 2002, 60; lds.org/general-conference/2002/04/the-life-of-prayer?

    19 2 Nefi 32:8.

    20 Ajaran dan Perjanjian 10:5.

    21 Alma 34:27; lihat juga 3 Nefi 20:1.