Lewati navigasi utama

Hai Ingatlah, Ingatlah

Hai Ingatlah, Ingatlah

Penatua Jeffrey R. Holland dalam Konferensi Umum bulan Oktober 1995 memberi khotbah yang indah mengenai asal mula dan tujuan dari sakramen. “Saat Perjamuan Terakhir yang secara khusus dan terakhir dipersiapkan berakhir, Yesus mengambil roti, memberkati dan memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada para Rasul-Nya, mengatakan, ‘Ambillah, makanlah’ (Matius 26:26). ‘Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu: perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku’ (Lukas 22:19). Dengan cara yang sama Dia mengambil cawan anggur … mengucapkan terima kasih untuk itu, dan mengedarkannya kepada mereka yang berkumpul di sekitar-Nya, mengatakan: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku,’ ‘yang ditumpahkan … untuk pengampunan akan dosa-dosa.’ ‘Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku’ (Lukas 22:20, Matius 26:28, Lukas 22:19)
‘Sejak pengalaman di ruang atas menjelang peristiwa di Getsemani dan Golgota, anak-anak perjanjian telah berjanji untuk mengingat pengurbanan Kristus dalam cara yang lebih baru, lebih tinggi, lebih kudus dan pribadi.’”1
Penatua Holland kemudian melanjutkan, bertanya, “Jika mengingat adalah tugas utama bagi kita, apa yang mungkin muncul ke dalam ingatan kita ketika lambang-lambang yang sederhana dan berharga itu ditawarkan kepada kita?”2



Apa yang hendaknya kita ingat?
Dalam upaya mengingatkan anak-anak mereka untuk mengingat hal-hal yang paling penting, para ibu sering kali menggunakan kata yang diulang-ulang seperti “ingatlah, ingatlah.” Saya merasa bahwa Bapa Surgawi kita mungkin melakukannya dengan cara serupa. Dalam Kitab Mormon ada lima kejadian dimana kata-kata “ingatlah, ingatlah” digunakan. Marilah kita menyelidiki bersama peristiwa tersebut dalam Kitab Mormon dan melihat apakah Bapa Surgawi kita yang pengasih telah meninggalkan kita dengan petunjuk apa pun sehubungan dengan apa yang hendaknya kita ingat.


Samuel si orang Laman—“Bertindak bagi Diri Kita Sendiri”
Samuel si orang Laman memberikan banyak kata-kata peringatan dan nubuat kepada orang-orang Nefi yang jahat. Dia memperingatkan mereka mengenai kehancuran mereka jika mereka terus hidup dalam kedurhakaan. Dia menubuatkan tentang kelahiran, kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus yang akan datang. Dia mengakui kebebasan yang mereka miliki untuk bertindak bagi diri mereka sendiri, tetapi dalam melakukannya mereka tidak boleh lupa bahwa hanya melalui Pendamaian Yesus Kristus dan tindakan mereka sendiri mereka akan diselamatkan. “Dan sekarang, ingatlah, ingatlah, saudara-saudaraku, bahwa barang siapa binasa, binasa bagi dirinya sendiri; dan barang siapa melakukan kedurhakaan, melakukannya bagi dirinya sendiri; karena lihatlah, kamu bebas; kamu diizinkan untuk bertindak bagi dirimu sendiri; karena lihatlah, Allah telah memberi kepadamu suatu pengetahuan dan Dia telah menjadikanmu bebas.”3 Dia ingin kita bertindak bagi diri kita sendiri, dan dengan demikian mengingat hal-hal baik yang seharusnya kita lakukan dan melaksanakannya.


Alma yang Muda—“Ketatnya Perintah-Perintah”
Alma yang muda telah melewati periode pemberontakan, pertobatan, dan kemudian menjadi nabi Allah. Dia memberikan kepada kita nasihat yang luar biasa melalui ajaran-ajaran yang dia berikan kepada para putranya, terutama kepada Helaman. “Ya, ingatlah, ingatlah, putraku Helaman, betapa ketatnya perintah-perintah Allah. Dan Dia berfirman: Jika kamu akan menaati perintah-perintah-Ku kamu akan makmur di tanah ini—tetapi jika kamu tidak menaati perintah-perintah-Nya kamu akan disingkirkan dari hadirat-Nya.”4
Ini adalah kata-kata tegas dari orangtua yang khawatir. Dia dengan tegas membagikan kepada putranya akibat dari menaati dan tidak menaati perintah-perintah. Mengapa begitu ketat? Mengapa segala hal tidak dapat menjadi lebih mudah? Nefi memberikan sebuah peringatan yang bijaksana kepada mereka yang menginginkan hal-hal yang terlalu mudah—“… celakalah bagi dia yang terlengah di Sion!”5 Jika kita terlalu santai dalam kepatuhan kita akanlah lebih mudah bagi setan untuk menghasut kita pada amarah, membuai kita, menenangkan kita, membujuk kita, mencengkeram kita, dan menuntun kita ke neraka. Jangan biarkan diri Anda sendiri menjadi ‘terlengah di Sion.’6 Jika kita ingin makmur, ‘ingatlah, ingatlah untuk menaati perintah-perintah’! 
Raja Benyamin “Bertahan Setia Sampai Akhir”
Salah satu khotbah paling penuh kuasa dalam seluruh tulisan suci adalah yang disampaikan oleh Raja Benyamin. Selain menjalankan kehidupan sebagai murid sejati Yesus Kristus, Raja Benyamin berhasrat agar orang-orang dapat memahami apa yang dia ketahui adalah benar—“… mereka yang menaati perintah-perintah Allah … dan jika mereka bertahan setia sampai akhir mereka diterima ke dalam surga.”7 Dia menekankan nasihatnya dengan mengimbau mereka untuk “Ya ingatlah, ingatlah bahwa hal-hal ini adalah benar; karena Tuhan Allah memfirmankannya.”8 Raja Benyamin mengingatkan kita bahwa Tuhan Allah telah membuat janji ini dan adalah terserah kepada kita untuk bertahan setia sampai akhir.
Nefi dan Lehi—“Di Atas Batu Karang Penebus Kita”
Dua hamba yang paling berbakti pada perkara menyebarkan Injil, Nefi dan Lehi, mengalami banyak kesulitan. Sewaktu mereka menghadapi tantangan mereka ingat perkataan ayah mereka, Helaman. “… Ingatlah, ingatlah bahwa adalah di atas batu karang Penebus kita, yang adalah Kristus, Putra Allah, bahwa kamu mesti membangun landasanmu … suatu landasan yang pasti, landasan yang jika manusia membangun di atasnya mereka tidak dapat jatuh.”9 Itu tidak berarti bahwa kita tidak akan memiliki kekecewaan, pencobaan atau tantangan, namun sewaktu kita membangun landasan yang kuat, kita akan memiliki kekuatan yang diperlukan untuk menahannya. Di manakah landasan kita? Di atas apakah itu dibangun? Seberapa kuatkah itu? Jika Anda masih membangun rumah Anda di atas pasir, ubahlah lokasinya!
Helaman—“Hanya Melalui Darah Pendamaian Yesus Kristus”
Selain itu Raja Benyamin mengajarkan, “Namun Tuhan Allah melihat bahwa umat-Nya adalah umat yang degil, dan Dia menetapkan bagi mereka sebuah hukum, bahkan hukum Musa. Dan banyak tanda, dan keajaiban, dan perlambang, dan bayangan diperlihatkan-Nya kepada mereka, mengenai kedatangan-Nya; dan juga para nabi kudus berbicara kepada mereka mengenai kedatangan-Nya; namun mereka mengeraskan hati mereka, dan tidak mengerti bahwa hukum Musa tak berfaedah apa pun kecuali melalui pendamaian dari darah-Nya.”10
Helaman kemudian di dalam Kitab Mormon menegaskan perkataan Raja Benyamin dengan nasihat yang dia berikan kepada para putranya, “Hai ingatlah, ingatlah … tidak ada jalan tidak juga sarana lain yang melaluinya manusia dapat diselamatkan, hanya melalui darah pendamaian Yesus Kristus.”11 Oleh karena itu, unsur paling penting untuk membangun suatu landasan yang kuat dan stabil adalah Pendamaian Yesus Kristus.










Bagaimana kita dapat mengingat?
Asas-asas yang harus diikuti adalah sederhana tetapi ketat. Kita harus menggunakan hak pilihan kita dengan bijaksana. Kita perlu menjadi setia sampai akhir dengan membangun kehidupan kita di atas batu karang Penebus kita. Melalui darah Pendamaian Yesus Kristus, kita akan dapat bergabung kembali dengan Bapa Surgawi kita dalam kemegahan kekal.
Pertemuan sakramen adalah “paling sakral, paling kudus, dari semua pertemuan di Gereja.”12 Bukan saja hendaknya kita mengambil lambang-lambang Juruselamat ini dengan suatu pandangan tunggal pada kemuliaan-Nya, tetapi juga sebagai seorang saksi mengenai kebenaran dari keilahian-Nya dalam segala yang kita katakan dan lakukan setiap hari. ■
_________________________________
CATATAN
1Jeffrey R. Holland, “This Do in Remembrance of Me,” Konferensi Umum Oktober 1995, https://www.lds.org/general-conference/1995/10/this-do-in-remembrance-of-me
2Ibid.
3Helaman 14:30.
4Alma 37:13.
5Lihat 2 Nefi 28:24.
6 Ibid.
7 Lihat Mosia 2:41.
8Ibid; penekanan ditambahkan.
9 Lihat Helaman 5:12.
10Mosia 3:14–15.
11 LihatHelaman 5:9.
12 Lihat Joseph Fielding Smith, dalam Conference Report, Oktober 1929, 60–61; lihat juga Doctrines of Salvation, diedit oleh Bruce R. McConkie, jilid 3 (1954–1956), 2:340–341; Ajaran-Ajaran Presiden Gereja, Joseph Fielding Smith (2013), 109.