Lewati navigasi utama

Hukum Puasa

Hukum Puasa

Tuhan telah memerintahkan kita untuk “memperhatikan yang miskin dan yang membutuhkan, dan melayani demi pertolongan mereka agar mereka tidak akan menderita.”1 Presiden Monson telah mengajarkan: “Ingatlah asas puasa yang benar. Apakah tidak berurusan dengan memberikan roti kita kepada yang lapar, membawa ke rumah kita orang miskin yang terbuang, mengenakan pakaian kepada yang telanjang, tidak menyembunyikan diri terhadap saudara kita sendiri? [Lihat Yesaya 58:7]. Persembahan puasa yang jujur, persembahan puasa yang murah hati, tentunya akan menjadi indikasi bagi Bapa Surgawi kita bahwa kita mengetahui dan mematuhi hukum khusus ini.”2

Sebagai anggota atau pemimpin Gereja, kita telah diingatkan dan diajarkan secara terus-menerus tentang pentingnya Hukum Puasa. Hukum Puasa ini telah diajarkan oleh para pemimpin Gereja dalam konferensi, pertemuan sakramen, pertemuan imamat, pertemuan lembaga pertolongan dan organisasi pelengkap lainnya, pengajaran ke rumah dan pengajaran berkunjung, wawancara rekomendasi bait suci, serta wawancara pemberesan persepuluhan.

Para anggota Gereja didorong untuk berpuasa kapan pun iman mereka memerlukan benteng pertahanan dan/atau menghadapi pencobaan dan tantangan, berdoa dan berpuasa bagi seseorang yang membutuhkan pertolongan, serta berpuasa secara teratur sebulan sekali pada hari Minggu puasa. Pada hari itu, kita tidak makan atau minum selama dua puluh empat jam. Kita, ketika secara jasmani mampu, didorong untuk berpuasa, berdoa dan memberikan kesaksian mengenai kebenaran kegenapan Injil dalam pertemuan puasa dan kesaksian kita. Kita juga bersekutu dengan Bapa Surgawi kita dan berkontribusi dalam persembahan puasa yang murah hati untuk membantu yang miskin dan yang membutuhkan. Persembahan puasa kita hendaknya sedikitnya setara (atau “disetarakan dengan”) nilai makanan yang akan kita makan. Biasanya, hari Minggu pertama tiap bulan ditentukan sebagai hari Minggu puasa.

Kita telah mengamati dalam tulisan suci atau menerima ajaran bahwa puasa selalu ditautkan dengan doa. Berpuasa lebih dari sekadar tidak makan atau minum, kita perlu mengangkat hati kita, pikiran kita, dan suara kita untuk berkomunikasi dengan Bapa Surgawi kita. Ketika ditautkan dengan doa yang rendah hati, puasa menjadi sangat kuat untuk memperkenankan kita menerima wahyu melalui Roh Kudus dan memperkuat kita melawan godaan. Kesaksian kita tumbuh setiap kali kita berpuasa, dan kita akan memperoleh sedikit lebih banyak kendali atas kelemahan dan nafsu kita. Doa dan permohonan kita yang saleh sering kali memiliki kekuatan yang lebih besar ketika kita berpuasa.

Kita tentunya akan menghadapi rasa lapar ketika kita berpuasa. Meskipun demikian, ketika kita secara harfiah menempatkan diri kita pada posisi orang yang lapar dan yang membutuhkan, kita akan memiliki pemahaman yang lebih besar tentang ketiadaan yang mereka rasakan. Rasa lapar kemudian akan dibebaskan oleh perasaan kasih dan rasa syukur. Ketika kita memberikan persembahan kepada uskup untuk meringankan penderitaan orang lain, kita bukan hanya melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain, tetapi juga melakukan sesuatu yang sangat baik bagi diri kita sendiri. Ini diajarkan oleh Raja Benyamin bahwa sewaktu kita “memberikan harta kekayaan kita kepada yang miskin, kita mempertahankan ‘pengampunan akan dosa-dosa dari hari ke hari.’”3

Uskup Dean M. Davies mengajarkan dalam Konferensi Umum Oktober 2014: “Hukum puasa berlaku untuk semua anggota Gereja. Bahkan anak-anak kecil dapat diajarkan berpuasa, dimulai dengan satu kali makan dan kemudian dua kali, sewaktu mereka dapat memahami dan menaati hukum puasa secara fisik. Para suami dan istri, anggota lajang, remaja, serta anak-anak hendaknya memulai puasa dengan doa, dengan mengucapkan syukur atas berkat-berkat dalam kehidupan mereka sementara mencari berkat-berkat Tuhan dan kekuatan selama masa berpuasa. Penggenapan tuntas dari hukum puasa terjadi ketika persembahan puasa diberikan kepada wakil Tuhan, uskup.”4

Sebagai tanggung jawab sakral, para anggota kuorum Imamat Harun telah diminta untuk mengumpulkan persembahan puasa, di mana pun mungkin. Ini telah mendatangkan berkat-berkat bagi para remaja putra yang berperan serta dan melaksanakan tanggung jawab sakral ini. Uskup Dean M. Davies lebih lanjut mengajarkan: “Sewaktu Anda para pemegang Imamat Harun mengembangkan tanggung jawab keimamatan Anda dan memperluas kesempatan ini kepada semua anggota Gereja, Anda kerap memfasilitasi berkat-berkat puasa yang dijanjikan kepada mereka yang mungkin paling membutuhkannya. Anda akan menyaksikan bahwa roh untuk memelihara yang miskin dan membutuhkan memiliki kuasa untuk dengan cara lain melunakkan hati yang terkeraskan dan memberkati kehidupan mereka yang mungkin jarang menghadiri Gereja.”5

Tuhan telah memercayai uskup, hakim Israel dengan tanggung jawab sakral untuk memberikan bantuan persembahan puasa kepada para anggota Gereja. Uskup akan melayani kebutuhan duniawi dan rohani para anggota dengan menggunakan persembahan puasa secara hati-hati sebagai tunjangan sementara dan sebagai tambahan bagi sumber-sumber dari keluarga dekat dan komunitas.6 Melalui mencari bimbingan Roh Kudus serta dengan dukungan dari presiden Lembaga Pertolongan dan para pemimpin kuorum Imamat Melkisedek, bantuan akan diberikan kepada yang miskin dan yang membutuhkan dengan cara yang akan meningkatkan tanggung jawab pribadi, menopang hidup alih-alih gaya hidup,7 memberikan komoditas dan kesempatan kerja. Asas-asas ini akan menolong yang miskin dan yang membutuhkan untuk berjalan terus pada jalan menuju kemandirian.

Setelah melayani sebagai uskup bertahun-tahun yang lalu, saya bersyukur bahwa hukum puasa telah menolong saya memahami asas dan berkat berikut:

  1. Sama seperti memperdalam keinsafan saya, saya perlu menjalankan hukum puasa dengan setia untuk menerima kesaksian dan berkat-berkat yang dijanjikan terkait dengan hukum ini.
  2. Saya memahami bahwa Tuhan telah menetapkan hukum puasa dan persembahan puasa untuk memberkati umat-Nya serta menyediakan cara bagi saya untuk melayani mereka yang membutuhkan.8
  3. Saya belajar bahwa hari puasa yang benar akan mencakup berpantang dari makanan dan minuman dalam periode waktu 24 jam, menghadiri pertemuan puasa dan kesaksian, serta memberikan persembahan puasa kepada Gereja sedikitnya setara dengan nilai makanan yang akan saya makan. Jika memungkinkan, saya akan menyumbang dengan murah hati dan memberikan lebih banyak.9
  4. Saya memahami bahwa hukum puasa berlaku bagi semua anggota Gereja (terlepas dari situasi ekonomi mereka) melalui iman dan keinsafan mereka.
  5. Saya telah belajar melalui pengalaman bahwa berkat-berkat terkait dengan hukum puasa akan mencakup kedekatan kepada Tuhan [dengan kerendahan hati], kekuatan rohani yang meningkat [untuk mengatasi pencobaan dan tantangan], kesejahteraan duniawi [menjadi lebih mandiri], belas kasih yang lebih besar [terhadap sesama kita] serta hasrat yang lebih kuat untuk melayani [orang lain].10

Presiden Gordon B. Hinckley suatu kali bertanya, “apa yang akan terjadi jika asas-asas hari puasa dan persembahan puasa ditaati di seluruh dunia [?] Yang lapar akan diberi makan, yang telanjang dikenakan pakaian, yang tunawisma diberi tempat berlindung .… Ukuran baru tentang keprihatinan dan sifat tak mementingkan diri akan tumbuh dalam hati orang-orang di mana-mana.”11

Ketika semua anggota Gereja menaati hukum puasa dan memberikan persembahan puasa yang murah hati, akan ada cukup dana untuk mengurus yang miskin dan yang membutuhkan, dan kita akan menerima berkat-berkat besar yang dijanjikan terkait dengan hukum puasa.

Melalui menjalankan hukum puasa selama bertahun-tahun ini, saya bersyukur karena menerima berkat-berkat yang dijanjikan oleh Tuhan yang terkait dengan hukum ini, “Aku akan membukakan bagimu tingkap-tingkap surga, dan mencurahkan kepadamu suatu berkat.”12 Saya bersaksi bahwa mereka yang dengan setia menjalankan hukum puasa pastilah akan menemukan berkat-berkat berkelimpahan yang terkait dengan hukum kudus ini, dalam nama Yesus Kristus, amin. ■

Catatan

1 Lihat Ajaran & Perjanjian 38:35.

2 Lihat General Authority Training Presentation, 7 Oktober 2014; lihat juga Yesaya 58:7; penekanan ditambahkan.

General Authority Training Presentation

3 Lihat Mosiah 4:26

4 Dean M. Davies, “Hukum Puasa: Tanggung Jawab Pribadi untuk Mengurus yang Miskin dan Membutuhkan,”Ensign, November 2014, 54‒55.

Ensign,

5 Dean M. Davies, “Hukum Puasa: Tanggung Jawab Pribadi untuk Mengurus yang Miskin dan Membutuhkan,” Ensign atau Liahona, November 2014, 55.

Ensign Liahona