Lewati navigasi utama

Keluarga

Keluarga

'Ibu?' Saya akan berteriak, sewaktu saya berjalan di depan pintu setiap hari saat pulang dari sekolah. Setelah mendengar suaranya, hati muda saya akan merasa tenang dan tenteram. Di setelah itulah saya akan mengerjakan tugas sekolah saya atau bermain. Rutinitas sederhana dari mendengar suaranya dan mengetahui dia di suatu tempat dalam rumah memiliki dampak menenangkan terhadap diri saya; itu artinya bahwa segalanya baik-baik saja. Rutinitas sehari-hari ini memelihara keyakinan diri saya dan membantu saya mengatasi banyak tantangan yang akan saya hadapi di kemudian hari dalam kehidupan.

Orangtua saya membesarkan sepuluh anak, terlepas dari pendapatan minim ayah saya sebagai seorang tukang kayu. Sesekali, para kerabat yang bermaksud baik akan mempertanyakan kebijaksanaan orangtua saya dalam memiliki begitu banyak anak, mengingat pendapatan minim ayah saya. Ibu saya akan sekadar menjawab, 'Tian sheng tian yang.' Pepatah Tiongkok ini artinya, 'Surga akan menolong memberi makan semua anak apabila seseorang memiliki iman untuk menanggung.'  Itu adalah sebuah pernyataan mendalam tentang iman kepada Allah yang berasal dari seorang wanita yang tidak memiliki pendidikan formal dan tidak memiliki pengetahuan tentang Injil. 

Menoleh ke belakang, terlepas dari dibesarkan dalam sebuah keluarga miskin, saya memiliki masa kanak-kanak yang amat menyenangkan. Keluarga kami yang terdiri dari dua belas orang santap malam bersama setiap malam. Kami duduk mengelilingi sebuah meja kayu bundar dengan kursi-kursi kayu mungil yang dibuat sendiri oleh ayah saya, mengobrol dan bercanda ria sewaktu kami berbagi peristiwa-peristiwa hari itu. Kami tidak memiliki uang untuk makan di restoran, namun apa pun yang kurang di atas meja tercipta oleh suasana akrab di seputar meja. Ini adalah kenangan manis dari keluarga saya yang sederhana namun bahagia.

“Pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita ditetapkan oleh Allah dan bahwa keluarga adalah inti dalam rencana sang Pencipta bagi takdir kekal anak-anak-Nya.”  Presiden Gordon B. Hinckley mengajarkan ini dan banyak asas ilahi lainnya sewaktu dia membaca “Keluarga: Maklumat kepada Dunia” kepada para sister dalam Pertemuan Lembaga Pertolongan Umum di Salt Lake City dua puluh tahun lalu.1

Presidensi Utama dan Kuorum Dua Belas Rasul yang kita dukung sebagai nabi, pelihat, dan pewahyu memiliki kunci-kunci, kuasa dan kemampuan untuk meramalkan tren sosial yang belum terkuak, terutama yang dapat menyakiti pernikahan dan keluarga. Mereka menggagas maklumat kenabian ini untuk memperingatkan banyak tren yang menghancurkan dalam masyarakat - tren yang secara diam-diam dipromosikan oleh si musuh untuk merusak banyak blok bangunan penting dari sebuah keluarga yang bahagia dan berhasil.

Dua belas tahun yang lalu, siapa pun yang mengikuti peristiwa terkini akan telah mengamati jumlah yang meningkat dari “anak panah dalam angin puyuh”2 dan “anak panah berapi lawan”3 yang menyerang keluarga di segala arah. Daftar dari “anak panah” dan “anak panah berapi” adalah panjang - itu mencakup isu yang berkaitan dengan ketertarikan terhadap sesama jenis, kohabitasi sebelum pernikahan, pornografi, perceraian, aborsi, keengganan dari pasangan yang telah menikah untuk memiliki anak, perundungan pasangan dan anak, ketidaksetiaan dalam pernikahan, pengabaian tanggung jawab orangtua dan sebagainya. Mengenai isu dan keadaan semacam itu yang memengaruhi keluarga, apa yang merupakan kesulitan dua puluh tahun silam tak diragukan lagi bahkan lebih menantang di saat ini.

Maklumat keluarga tidak pernah dimaksudkan sebagai sekadar sebuah dokumen untuk disertasi atau pembahasan doktrinal. Tujuan besarnya adalah untuk mengajarkan, memperingatkan, dan mengilhami kita untuk bertindak dalam cara-cara yang akan melindungi pernikahan dan keluarga kita. Saya ingin membagikan tiga saja kebiasaan keluarga yang, sebagaimana dinyatakan kembali oleh para nabi, dapat melindungi keluarga terhadap “anak panah dalam angin puyuh” dan “panah api berapi lawan” yang meningkat. Sebagaimana Alma mengajarkan kepada putranya, Helaman bahwa “melalui apa yang kecil dan sederhana apa yang besar didatangkan,”4 kebiasaan sederhana ini dapat membantu mendatangkan keselamatan dan permuliaan dari para anggota keluarga: 

1. Doa pribadi dan keluarga

1. Doa pribadi dan keluarga

Karunia paling berharga yang orangtua dapat berikan kepada anak-anak mereka adalah untuk mengajari mereka berdoa. Tidak ada yang akan lebih melindungi dan memberkati anak Anda dalam kehidupannya daripada kebiasaan tunggal yang dikembangkan dengan baik ini. Praktik penting ini akan menghubungkan anak Anda dengan garis kehidupan ilahi dan tak terbatas. Merupakan suatu keprihatinan besar bagi Gereja bahwa banyak anak tumbuh dalam kedewasaan tidak mengembangkan kebiasaan penting ini. Selain itu, kita hendaknya berdoa sebagai keluarga. Kita hendaknya secara sering membiarkan anak-anak kita mendengar kita berdoa dalam bahasa sederhana dan dengan iman kepada Allah, mencerminkan kepercayaan penuh kita kepada-Nya.

2. Tulisan suci pribadi dan keluarga

2. Tulisan suci pribadi dan keluarga

Dalam penglihatan Lehi tentang pohon kehidupan, tidak seorang pun mampu meraih pohon kehidupan untuk merasakah buah berharganya kecuali mereka berpegangan pada batang besi.5 Diwahyukan kepada Nefi bahwa batang besi itu melambangkan firman Allah,6 atau tulisan suci. Mengembangkan kebiasaan membaca tulisan suci merupakan salah satu upaya tersulit dan paling menantang bagi banyak individu dan keluarga. Tetapi jangan menyerah dalam berusaha. Ingatlah apa yang Nabi Joseph Smith katakan: “Dia yang membacanya paling sering akan paling menyukainya.”7 Sama seperti memainkan sebuah alat musik, Anda hanya akan benar-benar menikmatinya setelah Anda menghabiskan berjam-jam yang diperlukan untuk menguasainya. Sebagai tambahan, sewaktu anggota keluarga bergumul dengan kelemahan pribadi, mereka akanlah bijaksana untuk mengindahkan nasihat dari Presiden Faust yang menuturkan, “Saya percaya membaca tulisan suci adalah mesin pencuci terbaik untuk pikiran yang tidak bersih dan tidak terkontrol.”8  

3. Malam Keluarga

3. Malam Keluarga

Istri saya dan saya tidak mencapai malam keluarga yang berhasil setiap Senin. Namun saya harus menghargainya karena telah menjadikan sebagian besar malam keluarga menyenangkan.  Karena dia memiliki pendengar yang tertarik selama sekitar tiga puluh menit setiap minggu, dia akan secara kreatif menggunakan waktu sebagai momen mengajar untuk menyampaikan apa yang telah dia amati sebagai kesalahan dalam keluarga selama minggu itu. Gula-gula di atas kue tentu saja merupakan kudapan lezat yang telah lama ditunggu pada akhirnya.

Kami pernah melihat suatu keberhasilan ketika putri kami Valerie mengatakan kepada guru Pratamanya bahwa hari favoritnya dalam seminggu adalah Senin - karena malam keluarga. Sebuah jawaban yang tidak lazim, karena kebanyakan anak sekolah tidak suka hari Senin. Kami tersentuh dan tergugah oleh pernyataan itu.


Dalam sebuah ceramah Konferensi Umum April 2002, Presiden Hinckley menyoroti pentingnya keberhasilan di rumah: “Saya yakin bahwa ketika kita berhadapan dengan pengadilan Allah akan ada sedikit yang ditanya tentang berapa banyak kekayaan yang berhasil dikumpulkan selama hidup ini, atau pengharagaan yang telah kita capai. Tetapi akan ada banyak pertanyaan yang menyelidik tentang hubungan rumah tangga.  Dan saya yakin bahwa hanya mereka yang telah hidup dengan kasih serta rasa hormat dan menghargai pasangan hidupnya dan anak-anaknya yang akan menerima penilaian kekal, 'Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia. . . Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu' (Matius 25:21).”9


Keluarga sesungguhnya unit dasar dari masyarakat dan “tidak ada keberhasilan lain yang dapat menggantikan kegagalan dalam rumah tangga.”10Setiap bahan yang dibutuhkan bagi keluarga yang bahagia dan berhasil dapat ditemukan dalam maklumat ini. Keberanian dari orangtua saya untuk memiliki banyak anak, keputusan ibu saya untuk tinggal di rumah, dan kebiasaan dari bersantap malam keluarga bersama-sama setiap malam, adalah beberapa contoh dari bahan-bahan yang disebutkan dalam maklumat tersebut.  Saya bersaksi bahwa berkat-berkat besar akan mengalir dan keluarga akan diperkuat dan dibentengi terhadap musuh jika mereka mau menelaah, merenungkan dan mengikuti banyak asas ilahi dalam “Keluarga: Maklumat kepada Dunia” yang terilhami ini.11Dalam nama Yesus Kristus, amin.  ■ 

CATATAN

  1. Lihat “Keluarga: Maklumat kepada Dunia,”Liahona atau Ensign, November 2010,129.

  2. Lihat Helaman 5:12.

  3. Lihat 1 Nefi 15:24.

  4. Alma 37:6.

  5. Lihat 1 Nefi 8:19.

  6. Lihat 1 Nefi 11:25.

  7. Ajaran-Ajaran Presiden Gereja: Joseph Smith (2007), 75; lihat juga History of the Church,2:14.

  8. James E. Faust,“The Power of Self-Mastery,” Konferensi Umum April 2000, lds.org/general-conference/2000/04/the-power-of-self-mastery.

  9. Gordon B. Hinckley, “Personal Worthiness to Exercise the Priesthood,”Ensign, Mei 2002, 54.

  10. J.E. McCulloch, Home: The Savior of Civilization(1924), 42; lihat jugalds.org/media-library/video/2012-05-0907=teachings-of-david-o-mckay-the-importance-of-a-strong-family.

  11. “Keluarga: Maklumat kepada Dunia,”Liahona atau Ensign, November 2010, 129.