Lewati navigasi utama

Melayani Orang Lain Dengan Kasih

Melayani Orang Lain Dengan Kasih

Pada September 1972 ketika saya berumur 17 tahun, saya berdinas di Angkatan Udara Kerajaan Malaysia. Pada waktu itu, saya tidak memahami sepenuhnya dampaknya dalam kehidupan saya sewaktu saya harus menandatangani kontrak 13 tahun dengan mereka. Tugas saya adalah melayani dan melindungi negara saya dari musuh pada waktu peperangan.

Untuk melatih kami menjadi seorang tentara, kami harus menjalani pelatihan fisik dan mental untuk menguatkan tubuh dan pikiran kami agar siap secara fisik dan mental. Kami dilatih untuk mendengar dan mematuhi perintah serta melaksanakannya dengan efisien. Kami mengembangkan disiplin yang ketat ke dalam kehidupan kami sehari-hari karena setiap detik dihitung saat melaksanakan tugas-tugas kami. Saya senang bahwa menjadi terlatih dan menjadi siap secara fisik dan mental adalah landasan yang kuat dalam kehidupan militer saya.
Sewaktu saya memikirkan kembali tentang hari-hari saya di Angkatan Udara, saya tahu bahwa Bapa Surgawi telah mempersiapkan diri saya untuk menerima Injil-Nya karena saya bergabung dengan gereja ketika saya berada di Angkatan Udara. Masa 13 tahun saya di Angkatan Udara memberikan saya kesempatan untuk belajar dan melayani. Oleh karena itu, pelayanan adalah bagian dan bidang dalam kehidupan saya sehari-hari. Ketika saya bergabung dengan Gereja pada 1980 silam, saya dipersiapkan untuk melayani Allah dengan cara apa pun yang dapat saya lakukan sebagai pelayanan kepada-Nya. Saya belajar bahwa dalam memberikan pelayanan kepada orang lain, kita dapat melakukannya dengan 2 cara. Satu adalah pelayanan dengan kesadaran untuk menunaikannya sebagai suatu tugas dan kewajiban serta yang lain adalah pelayanan dengan kerendahan hati dan kasih.

Teladan terbesar dalam melayani dengan kasih adalah Guru kita dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Dalam pelayanan-Nya di bumi, Dia memperlihatkan melalui teladan bagaimana seseorang hendaknya melayani orang lain dalam kebutuhan mereka. Dia akan mendengarkan dan memberikan nasihat kepada mereka yang mendekat kepada-Nya. Dia akan mencari yang miskin dan membutuhkan serta memberikan mereka berkat-berkat yang mereka perlukan. Pada saat Perjamuan Malam Terakhir bersama para rasul-Nya, Dia berfirman, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” 1

Sewaktu kita belajar dari teladan-Nya, kita juga dapat melakukan seperti itu. Masa 13 tahun pelayanan saya di Angkatan Udara telah menanamkan dalam diri saya kedisiplinan untuk melaksanakan tugas-tugas dengan efektif namun dengan Injil Yesus Kristus, itu telah mengajarkan saya untuk melayani orang lain dengan kerendahan hati dan dengan kasih.

Saya sangat bersyukur kepada ibu saya yang di sepanjang hidupnya telah senantiasa melakukan pelayanan kepada orang lain. Dia mengajarkan saya asas bekerja sewaktu dia mengambil alih sebagian besar beban untuk menyediakan makanan dan tempat berlindung bagi keluarga kami. Dia memperoleh penghasilan dengan melakukan pekerjaan sambilan seperti mencuci pakaian bagi keluarga-keluarga dan melakukan tugas suruhan bagi orang lain.  Saya telah merasakan kasarnya telapak tangannya karena mencuci pakaian dan merasakan kasih yang dia miliki bagi kami. Dia bersedia mengorbankan hidupnya dengan bekerja supaya saya dan saudara-saudara lelaki saya memiliki kesempatan untuk menuntaskan pendidikan kami di sekolah. Jika siapa pun dari teman-temannya membutuhkan bantuannya, dia senantiasa berada di sana untuk memberikan uluran tangan. Teladannya yang baik telah memberikan saya landasan yang kuat untuk melayani orang lain kapan pun memungkinkan.

Kesombongan adalah batu sandungan yang akan menghambat pelayanan kita kepada orang lain. Melayani dengan kasih menuntut seseorang memiliki belas kasih, empati, pengertian dan bersedia mengambil tindakan untuk menolong. Nabi Joseph Smith berkata, “bahwa sebuah agama yang tidak menuntut pengorbanan segala sesuatu tidak pernah memiliki cukup kekuatan untuk menghasilkan iman yang diperlukan untuk kehidupan dan keselamatan.” 2

Putra bungsu saya, Brandon, mengirimkan permohonan misionarisnya sebelum dia berusia 19 tahun untuk melayani misi dan permohonannya ditolak karena dia kelebihan berat badan. Permohonannya akan dipertimbangkan kembali setelah dia turun 20 kilogram. Saya harus menyampaikan berita ini kepadanya dan dia tercengang untuk sesaat. Kemudian saya bertanya apakah dia masih memiliki hasrat untuk melayani misi dan dia mengatakan masih berhasrat. Saya memberi tahu dia bahwa dia harus menjalani program penurunan berat badan untuk melepaskan sekian kilogram dari tubuhnya. Saya daftarkan dia ke sebuah pusat kebugaran dan menyewa pelatih pribadi baginya. Dalam waktu beberapa bulan, dia berhasil turun pada berat badan yang akan memperkenankan dia untuk pergi melayani misinya.

Dia bersedia berkorban dan bekerja keras agar menjadikan dirinya memenuhi syarat untuk melayani Allah sebagaimana ditemukan dalam Bagian 4 dari Ajaran dan Perjanjian, “Oleh karena itu, hai kamu yang mulai dalam pelayanan bagi Allah, pastikanlah bahwa kamu melayani-Nya dengan segenap hati, daya, pikiran dan kekuatanmu, agar kamu boleh berdiri tanpa salah di hadapan Allah pada hari terakhir. Oleh karena itu, jika kamu memiliki hasrat untuk melayani Allah kamu dipanggil pada pekerjaan itu …. Dan iman, harapan, kasih amal dan kasih, dengan suatu pandangan tunggal pada kemuliaan Allah, menjadikan dia memenuhi syarat bagi pekerjaan itu.” 3

Elder Chan saat ini sedang melayani di Misi Singapura dan saya senantiasa menanti-nantikan untuk menerima surel mingguannya. Saya dapat melihat perubahan dalam dirinya sewaktu dia berupaya untuk membangun kerajaan Allah di sini. Dalam salah satu surelnya, dia memberikan kesaksiannya, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada melayani orang-orang....dan melayani Tuhan....dan itu adalah pelajaran terhebat yang telah saya pelajari dalam misi saya. Saya mulai belajar sedemikian lebih banyak ... dan mulai menyadari sukacita ... dan juga rasa sakit dalam melakukan pekerjaan misi …. Saya telah benar-benar memahami lebih banyak tentang Pendamaian sekarang dan juga menyadari betapa pentingnya hal itu ketika itu diterapkan. Saya bersyukur bahu-membahu bersama Juruselamat saya dan membiarkan Dia (misionaris yang sempurna) menuntun dan membimbing saya.”

Sukacita melayani orang lain dengan kasih mendatangkan penguatan iman dan kesaksian tentang Injil Yesus Kristus. Saya bersyukur atas banyaknya kesempatan yang saya miliki dengan melayani dalam berbagai panggilan di dalam gereja dan itu telah membawa saya lebih dekat kepada Tuhan dan menjadi hamba yang rendah hati.

Dengan setiap kesempatan berada dalam pelayanan kepada orang lain, kita memperoleh hak istimewa untuk mengikuti jejak Juruselamat kita dalam melayani orang lain. Marilah kita senantiasa memiliki ruang dalam hati kita sewaktu kita dipanggil untuk membantu menegakkan kerajaan Allah di atas bumi ini.

Saya memberikan kepada Anda kesaksian saya bahwa saya tahu bahwa Bapa Surgawi hidup dan Yesus Kristus adalah Juruselamat dan Penebus kita. Karena kasih-Nya yang besar bagi kita, Dia bersedia mengurbankan Putra-Nya untuk mendamaikan dosa-dosa kita. Yesus Kristus adalah kepala Gereja dan Presiden Monson adalah nabi kita yang hidup saat ini. Kita memiliki Kitab Mormon sebagai firman Allah dan satu kesaksian lagi tentang Yesus Kristus. Kerajaan-Nya akan terus bergulir ke seluruh penjuru bumi, dalam nama Yesus Kristus, amin. ■


CATATAN
1 Yohanes 13:34–35.
2 Lectures on Faith, disusun oleh N. B. Lundwall (1999), 58.
3Ajaran dan Perjanjian 4:2–3 & 5.