Kesaksian Kita Selama Pertemuan Puasa dan Kesaksian

    Penatua Khanakham

    Saya ingat pertama kali menghadiri pertemuan puasa dan kesaksian di Gereja. Saya mendengar kesaksian yang hampir serupa dari para misionaris penuh waktu. Mereka bahkan tampak saling meniru. Mereka membagikan bahwa mereka mengetahui Allah hidup, bahwa Joseph Smith dipanggil oleh Allah untuk menjadi nabi yang hidup, bahwa Kitab Mormon adalah firman Allah, dan bahwa Gereja adalah benar. Semua bersaksi bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dan Penebus.

    Kesaksian mereka mengilhami saya dan membuat saya memiliki rasa ingin tahu yang tulus untuk menemukan: Apakah kesaksian itu? Mengapa saya perlu membagikan kesaksian saya? Bagaimana saya membagikan kesaksian saya? Bagaimana mereka mengetahui bahwa apa yang mereka katakan adalah benar? Bagaimana saya memperoleh kesaksian saya sendiri seperti mereka?

    Setelah menjalankan Injil selama bertahun-tahun dengan menaati perintah-perintah-Nya, menelaah tulisan suci harian, doa harian, menyelidiki pesan-pesan terilhami dari para pemimpin Gereja, dan lima puluh tahun melayani tanpa syarat dalam banyak pemanggilan dari Tuhan, pemahaman saya mengenai hal ini secara bertahap meningkat. Kita belajar bahwa kesaksian tentang Yesus adalah roh nubuat.1 Itu datang melalui ilham dan wahyu pribadi dari karunia dan kuasa Roh Kudus. Semua orang dapat menerimanya jika kita patuh terhadap perintah-perintah Allah dan hidup dengan saleh. Kesaksian adalah perisai iman.2 Saya senantiasa diajari melalui perkataan Nefi, “setelah kamu menerima Roh Kudus kamu dapat berbicara dengan bahasa para malaikat?”3

    Saya juga belajar dari para rasul yang mengajarkan kepada kita: “Kesaksian akan Injil bukanlah sebuah laporan perjalanan, laporan kesehatan, ataupun ungkapan kasih bagi anggota keluarga. Itu bukan sebuah khotbah. Presiden Kimball mengajarkan bahwa saat kita mulai berkhotbah kepada orang lain, kesaksian kita berakhir.”4 Selain itu kesaksian bukanlah sebuah khotbah atau ceramah mengenai beberapa pokok ajaran, meskipun seseorang mungkin mengutip sebuah ayat suci dan kemudian bersaksi mengenai ayat itu.5 Ajaran-ajaran mereka senantiasa mengingatkan saya tentang apa kesaksian itu dan cara membagikan kesaksian saya.

    Kita hendaknya memaklumkan kesaksian tulus kita dalam pernyataan yang singkat dan padat berkaitan dengan Bapa Surgawi kita, Putra-Nya Yesus Kristus, dan kebenaran Injil yang dipulihkan. Apa yang akan terjadi ketika jemaat duduk dalam pertemuan puasa dan kesaksian serta mendengar kesaksian murni dari para anggota yang mengatakan:

    • Saya tahu bahwa Bapa dan Putra menampakkan diri kepada Nabi Joseph Smith.
    • Saya tahu Joseph Smith melihat sosok Allah Bapa dan Yesus Kristus.
    • Saya tahu Joseph Smith dipanggil Allah untuk menjadi Nabi sejati yang hidup.
    • Saya tahu malaikat Moroni berbicara kepada Joseph Smith dan menyerahkan kepadanya lempengan-lempengan emas.
    • Saya tahu Kitab Mormon adalah firman Allah dan Injil yang dipulihkan adalah benar.
    • Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir adalah Gereja sejati yang dipulihkan.

    Membagikan kesaksian sejati akan mengilhami mereka untuk merenung dan memiliki hasrat yang lebih besar untuk belajar dan mencari lebih banyak kebenaran dari tulisan suci. Itu akan mengilhami mereka untuk memiliki doa-doa yang lebih pribadi, rendah hati, penuh iman. Itu akan memperkenankan orang lain untuk memperoleh lebih banyak iman kepada Bapa Surgawi dan Putra-Nya Yesus Kristus.

    “Sebuah kesaksian yang kuat adalah kuasa pendukung dari kehidupan yang berhasil. Itu berpusat pada pemahaman akan sifat-sifat ilahi Allah Bapa kita, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Itu dijamin melalui kesediaan untuk bersandar kepada Mereka. Sebuah kesaksian yang kuat didasarkan pada keyakinan pribadi bahwa Roh Kudus dapat membimbing dan mengilhami tindakan harian kita untuk kebaikan.”6

    Membagikan kesaksian kita dengan benar selama pertemuan puasa dan kesaksian adalah penting karena itu menghasilkan iman baik untuk yang membagikan maupun yang mendengarkan. Semua yang hadir diteguhkan oleh kuasa Roh Kudus. Itu menolong kita saling memperkuat dan meyakinkan iman kita kepada Bapa Surgawi dan Putra-Nya Yesus Kristus. Itu menolong kita tetap kuat di Gereja, aktif dalam Injil, hidup dengan bahagia, dan menikmati berkat-berkat Injil bahkan dalam masa-masa sulit kehidupan. Saya berdoa semoga semua akan dapat membagikan kesaksian pribadi dalam cara yang pantas sehingga kita semua akan memberkati kehidupan banyak orang melalui kesaksian kita yang sejati dan sederhana. “Kesaksian pribadi Anda tentang terang dan kebenaran tidak hanya akan memberkati Anda serta keturunan Anda di sini dalam kefanaan, tetapi itu juga akan menyertai Anda di sepanjang kekekalan.”7 Saya bergabung dengan kesaksian para Rasul bahwa saya tahu kurban pendamaian-Nya adalah nyata dan Dia hidup. Dalam nama Juruselamat kita, Yesus Kristus, amin. ■

    Caption: Penatua Wisit Khanakham

    ______________________________________

    CATATAN:

    1 Lihat Wahyu 19:10

    2Lihat Ajaran dan Perjanjian 27:17

    32 Nefi 32:2

    4 Dallin H. Oaks, “Kesaksian”, Liahona, Mei 2008, 26.

    5 Jay E. Jensen, “Memberikan Kesaksian”, Liahona, Oktober 2005, 10.

    6 Richard G. Scott, “The Power of A Strong Testimony”, Ensign, November 2001, 87.

    7 Dieter F. Utchdorf, “Menerima Kesaksian tentang Terang dan Kebenaran”. Liahona, November 2014, 23.