Menanggapi Tantangan Penatua Andersen

    Menanggapi Tantangan Penatua Andersen

    Penatua Neil L. Andersen dari Kuorum Dua Belas Rasul, dalam ceramah yang disampaikan pada kebaktian Family Discovery Day untuk remaja di awal tahun 2014, memberikan tantangan berikut kepada para remaja, “Saya ingin menantang Anda masing-masing untuk menetapkan gol pribadi untuk menolong mempersiapkan sebanyak mungkin nama untuk bait suci dan juga pembaptisan untuk Anda lakukan di bait suci.” (https://www.lds.org/topics/family-history/temple-challenge)

    Family Discovery Day (https://www.lds.org/topics/family-history/temple-challenge)

    Beberapa orang remaja dari Lingkungan Bogor telah menerima dan menanggapi tantangan tersebut. Pada akhir tahun 2014, mereka mendapat kesempatan istimewa untuk mengunjungi Bait Suci Manila. Bagi beberapa dari mereka ini adalah pengalaman pertama mengunjungi bait suci dan melakukan tata cara baptisan perwakilan bagi leluhur mereka.

    Berikut adalah kesan dan kesaksian yang dapat mereka bagikan:

    Wilma, “Ketika saya memasuki ruang baptisan, saya merasakan suasana yang penuh dengan kekhidmatan. Saya bersyukur karena dapat pergi ke bait suci dan melakukan pembaptisan perwakilan bagi para leluhur yang belum pernah saya lihat wajahnya. Saya berharap bahwa apa yang saya lakukan dapat berguna bagi keselamatan mereka. Saya tahu bahwa ketika kita melakukan ini maka kita dapat bertemu dan berkumpul bersama mereka lagi.”

    Wilma

    Abelia, “Perasaan saya senang karena saya sudah dimeteraikan bersama kedua orang tua saya. Saat membaptiskan leluhur, saya merasakan leluhur saya ada saat itu dan mereka merasa senang telah dibaptiskan di Gereja ini melalui saya. Saya senang melakukan ini dan saya tahu leluhur saya telah mengetahui kebenaran itu.”

    Abelia

    Asa, “Saya senang bisa melakukan tata cara baptisan perwakilan. Saya senang bisa memasuki Bait Suci karena itu pertama kali bagi saya. Dan saya percaya bahwa para leluhur telah belajar mengenai kebenaran dan mereka dapat diselamatkan melalui tata cara perwakilan tersebut.”

    Asa

    Bima, “Saya bahagia keluarga saya telah dimeteraikan, berarti keluarga saya akan kekal selamanya. Sebuah kehormatan besar bahwa saya telah mewakili leluhur saya untuk dibaptiskan agar leluhur saya dapat memiliki kesempatan untuk memasuki kerajaan Allah.”

    Bima

    Benito, “Ruang baptisan sangat sunyi, awalnya saya khawatir bahwa air baptisan akan terasa dingin, tetapi ternyata airnya hangat dan itu membuat saya tidak mau berhenti untuk dibaptiskan. Setelah melakukan pembaptisan perwakilan untuk kakek dan kakek buyut saya, ada perasaan tenang, nyaman serta penuh roh, karena saya tahu saya telah melakukan hal yang benar dan berguna bagi leluhur saya.”

    Benito

    Mari buktikan kasih kita kepada para leluhur dengan mempergegas pekerjaan keselamatan bagi mereka melalui pekerjaan Sejarah Keluarga dan tata cara perwakilan di bait suci.