Menemukan Ajaran dalam Nyanyian Pujian Sakramen

    Penatua Tai

    Dalam kisah Perjanjian Baru mengenai Perjamuan Malam Terakhir, kita belajar bahwa Juruselamat Yesus Kristus merayakan Paskah bersama murid-murid-Nya, mengadakan tata cara sakramen dan “sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun” [1] di Taman Getsemani, Dia menderita bagi dosa seluruh umat manusia.[2]

    Sebagai para murid Yesus Kristus di zaman akhir, setiap hari Sabat kita mengenang kurban pendamaian-Nya melalui tata cara sakramen. Seperti para murid zaman dahulu, kita masing-masing dalam pertemuan sakramen diundang untuk “berjaga-jaga”, “tinggal” dan “berdoa” bersama Juruselamat selama “satu jam”[3] sewaktu kita mengingat Dia dan semua yang telah Dia lakukan bagi kita. Seperti Juruselamat, kita juga dapat bersiap untuk waktu yang sakral ini dengan menyanyikan dan merenungkan nyanyian pujian, terutama nyanyian yang mengajarkan kepada kita mengenai peranan ilahi-Nya sebagai Penebus kita.

    Penatua Peter F. Meurs telah mengajarkan, “Nyanyian pujian sakramen adalah bagian yang secara khusus penting dari pengalaman sakramen kita. Musik meningkatkan pemikiran dan perasaan kita. Nyanyian pujian bahkan memiliki pengaruh yang lebih besar ketika kita berfokus pada lirik dan ajaran penuh kuasa yang diajarkan. Kita belajar banyak dari lirik seperti “Dicabik, dikoyak,” “Mari ingat dan pastikan hati tangan murni nian,” serta “Penuh kasih yang setia, dan keserasian!”

    “Sewaktu kita menyanyikan sebuah lagu pujian dalam persiapan untuk mengambil lambang-lambang, liriknya dapat menjadi bagian komitmen perjanjian kita. Pertimbangkan, sebagai contoh: “Kami mengasihi-Mu, Tuhan; hati kami penuh. Kami akan berjalan di jalan-Mu.”[4]

    Buku nyanyian pujian kita memiliki banyak nyanyian pujian indah yang secara khusus memberi referensi akan Juruselamat, Pendamaian-Nya, dan tata cara sakramen. Di bagian bawah dari setiap nyanyian pujian, referensi tulisan suci dapat ditemukan yang melaluinya ajaran yang mendasarinya dapat lebih lanjut ditelusuri dan ditelaah. Melalui menyanyikan nyanyian-nyanyian pujian ini dengan segenap hati, pikiran, serta suara kita dan melalui merenungkan ajaran yang disampaikan, kita mengizinkan diri kita dipenuhi dengan rasa syukur, kasih dan kedamaian melalui kuasa Roh Kudus.

    Beberapa tahun lalu, saya menghadiri sebuah pertemuan sakramen dengan pikiran yang gelisah karena tantangan dan kecemasan pada hari itu. Sewaktu nyanyian pujian dimulai, bersama para jemaat saya bernyanyi dan merenungkan lirik berikut:

    Dalam kerendahan hati, B’ri kehadiran Roh-Mu,

    Saat memberkati roti dan air di hari Minggu.

    Biar jangan kulupakan, Engkau mati bagiku,

    Di kala hati-Mu hancur di Kalvari, di paku.

    Bri’lah hati kami kasih dan saling bermaafan.

    Biar doa kami berkenan di istana kesucian.

    Jika kami nyata layak bagi korban-Mu suci,

    Ya Tuhan, kehadiran-Mu kami rasakan lagi.[5]

    Ketika saya mulai bernyanyi, saya merasa perlu dan berhasrat untuk bertobat dan menjadi rendah hati. Ini diikuti dengan pemahaman yang jelas tentang simbol dibalik lambang-lambang sakramen dan bahwa Juruselamat telah mengorbankan diri-Nya bagi saya. Saya menjadi sadar bahwa hati-Nya yang tenteram dan hancur memungkinkan bagi hati saya untuk dipenuhi dengan rasa memaafkan, toleransi dan kasih; dan bahwa melalui kasih karunia-Nya kelak saya akan menjadi layak untuk berada di hadirat-Nya. Pada akhir nyanyian pujian itu, pikiran saya menjadi damai dan hati saya dipenuhi dengan sukacita dan rasa syukur atas tantangan-tantangan dan kesempatan yang saya hadapi dalam hidup saya. Saya siap untuk mengambil sakramen.

    Keluarga Rochadi

    Setiap minggu sewaktu kita bersiap untuk mengambil sakramen, marilah kita:

    • merenungkan lirik dari nyanyian pujian sakramen dan penuh perhatian terhadap bisikan roh untuk bertindak,
    • meluangkan waktu untuk membaca referensi tulisan suci yang berkaitan dengan nyanyian pujian itu dan menelaah ajaran yang mendasarinya,
    • menyanyikan nyanyian pujian dengan segenap hati, pikiran dan suara, dan
    • mengingat ajakan Juruselamat kepada kita untuk tinggal, berjaga-jaga dan berdoa bersama-Nya pada setiap pertemuan sakramen.

    Sewaktu kita melakukannya, kita akan menemukan kedamaian, kasih, sukacita dan kepercayaan diri yang lebih besar melalui Injil dan makna yang lebih besar bagi pengalaman sakramen kita setiap minggu.

    Catatan:

    [1] Matius 26:30, Markus 14:26

    [2] Walaupun tidak terdapat catatan nama nyanyian pujian yang dinyanyikan pada sore Paskah itu, banyak cendekiawan percaya bahwa itu kemungkinan besar adalah Mazmur 113–118, yang lazimnya dinyanyikan pada hari Paskah dan memuat banyak referensi kemesiasan.

    [3] Lihat Matius 26:38, 40–41

    [4] Peter F. Meurs, “Sakramen Dapat Membantu Kita Menjadi Kudus,” Ensign, November 2016, 85

    [5] “Dalam Kerendahan Hati,” Nyanyian Rohani, no. 72