Lewati navigasi utama

Menguduskan Hari Sabat

Menguduskan Hari Sabat

Kesukaan terbesar keluarga kami dalam menguduskan hari Sabat adalah dengan menghadiri Pertemuan Sakramen di mana pun kami berada.

Pada bulan Desember 2007 saya dan keluarga saya mendapat kesempatan istimewa berkunjung ke Negeri Belanda untuk bersilaturahmi kepada bibi saya dan beberapa anak-anaknya. Segala kegiatan telah diatur oleh beliau selama kami berada di sana. Bibi saya tahu kalau saya dan keluarga saya adalah orang Mormon, anggota Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir. Maka khusus pada hari Minggu kami sengaja diberikan waktu untuk pergi beribadah ke gedung Gereja yang kebetulan ada sebuah cabang kecil di sana.

Tibalah hari Minggu yang ditunggu-tunggu. Namun kami menghadapi kendala pada hari itu, karena di kota Nijmegen pada hari Minggu bus kota baru mulai beroperasi pada pukul 09.00 pagi, sedangkan pertemuan Sakramen di Cabang tersebut dimulai pukul 09.30, berarti kami akan kehilangan kesempatan untuk mengambil Sakramen jika akan menunggu sampai bus kota beroperasi. Bibi saya yang adalah seorang janda hanya mempunyai sebuah sepeda di rumahnya. Sepupu-sepupu saya yang mempunyai kendaraan semuanya tinggal di luar kota. Di kota ini tidak ada taksi seperti di kota-kota besar. Jarak menuju ke Gereja cukup jauh dari rumah bibi saya. Namun kami bersyukur bahwa Tuhan membuat bibi saya teringat kalau ada pelayanan transportasi khusus bagi orang-orang difabel dan jompo, yang dapat menjemput mereka yang membutuhkan transportasi kapan saja dengan sejumlah biaya. Rupanya pelayanan transportasi ini boleh dipakai juga oleh orang biasa yang membutuhkan angkutan.

Setelah dihubungi lewat telepon, mereka menjemput kami sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Di dalam minibus tersebut sudah ada orang-orang lanjut usia yang rupanya juga akan beribadah ke gereja mereka masing-masing. Kemudian kami dibawa menjemput para lansia lainnya. Kemudian kami diturunkan paling pertama di tempat yang kami tuju di tengah-tengah kota.

Terlihat sebuah ruko berwarna coklat yang dipakai oleh Gereja untuk Cabang Nijmegen ini. Keramahan, kehangatan dan ketulusan para anggota di sana dapat terlihat dan terasa sewaktu mereka menyambut kami yang adalah orang asing. Bahkan Presiden Cabang juga menyambut kami dan memperkenalkan keluarganya.

Sebuah cabang kecil namun mempunyai semangat yang luar biasa, kehadiran pertemuan Sakramen sekitar 40 orang. Kami sangat bersyukur boleh menguduskan hari Sabat dengan mengambil bagian dalam Sakramen untuk mengingat Pendamaian yang Yesus Kristus telah lakukan untuk kita semua. Mereka ternyata juga menyediakan alat penerjemahan untuk kami. Salah seorang pemegang Imamat melakukan pelayanan penerjemahan ini ke dalam bahasa Inggris untuk kami. Bahkan dengan beberapa anggota, kami sempat membuat janji untuk bertemu di Bait Suci Den Haag pada hari Rabu mendatang untuk menolong melakukan tata cara bagi orang yang telah meninggal. Terima kasih kami sampaikan kepada Cabang Nijmegen atas pelayanan mereka terhadap kami yang membuat hari Sabat ini istimewa selama perjalanan kami di Negeri Belanda.