Lewati navigasi utama

Paket Kesehatan Bagi Keluarga Pengungsi

Paket Kesehatan Bagi Keluarga Pengungsi

Para ibu mengerti sulitnya merawat anak-anak mereka, meski dalam keadaan yang normal di rumah. Dan ketika Anda bepergian dengan anak-anak, itu menjadi lebih sulit. Namun, ketika Anda seorang ibu pengungsi, kemampuan Anda untuk merawat anak-anak Anda bahkan menjadi sangat terbatas.

Maka, ketika Felicity Aston, anggota Gereja dan ibu dari empat anak, mengetahui bahwa banyak para ibu pengungsi yang berlindung di Indonesia tidak memiliki suplai kesehatan yang diperlukan, dia ingin melakukan apa yang dapat dia lakukan untuk memperbaiki situasi mereka. Felicity membawa gagasan ini kepada pemimpin unit lokal organisasi wanita Gereja, Lembaga Pertolongan. Saran ini direspons dengan antusias oleh para pemimpin Lembaga Pertolongan dan anggota lainnya. Dalam waktu singkat mereka telah menghimpun berbagai barang kesehatan, seperti sikat gigi, pasta gigi, krim anti jamur, gunting kuku, multivitamin, dll. Kemudian sebagaimana yang telah mereka lakukan sebelumnya dan akan terus lakukan di masa depan, para wanita Lembaga Pertolongan ini berkumpul dan bekerja selama sekitar dua jam untuk mengemas paket-paket ini. Paket kesehatan ini diserahkan ketika para ibu pengungsi menghadiri lokakarya mengenai praktik dan penyuluhan dasar kesehatan. Paket ini memungkinkan para pengungsi untuk langsung memanfaatkan pengetahuan yang mereka terima di lokakarya tersebut.

Sekitar 200 keluarga pengungsi saat ini tinggal di sebuah fasilitas dekat kota Bogor, Indonesia. Kebanyakan keluarga mencakup orangtua dan anak-anak, tetapi beberapa hanya memiliki ibu dan beberapa mencakup anggota keluarga besar. Sebagian besar keluarga berasal dari negara-negara Timur Tengah, namun baru-baru ini beberapa telah datang dari Afrika. Farsi, bahasa dominan para pengungsi, digunakan untuk mengajar di lokakarya tersebut. Sewaktu mereka membagikan paket kesehatan ini, para sukarelawan merasa tersentuh dengan rasa syukur yang diungkapkan para pengungsi, “Meski kami tidak berbicara dalam bahasa yang sama, kami memahami perasaan yang kami bagikan sewaktu kami berjabat tangan, dan saling memandang, dan tersenyum.”

Lebih dari satu dekade, anggota Gereja telah menyediakan ratusan ribu selimut, pakaian, suplai medis, makanan, dan sumber lainnya. Pemimpin Gereja baru-baru ini juga mengimbau anggotanya di seluruh dunia untuk membantu para pengungsi. (http://www.mormonnewsroom.org/article/church-members-encouraged-assist-refugees)

AssemblingHygieneKits3.JPG

Bekerja bersama menanggapi imbauan pemimpin Gereja untuk membantu para pengungsi.

FelicityAston1.JPG

Felicity dan rekan-rekannya memahami kesulitan yang dihadapi para ibu pengungsi.