Lewati navigasi utama

Pelatihan ‘Coaching’ Kemandirian

Pelatihan ‘Coaching’ Kemandirian

Untuk memiliki keterampilan ‘coaching’, Sister Yoshi Yamamoto telah mengambil kursus jarak jauh melalui telepon dari Jepang. Dia ingin membagikan ilmunya kepada siapa saja. Kali ini pelatihan diberikan kepada para sukarelawan Kemandirian yang difasilitasi oleh Uskup Ricky Pudja Mak, selaku Direktur Eksekutif Pelayanan Kemandirian Indonesia. Seminar diadakan 2 jam setiap hari Selasa selama 4 minggu.

Apa Bedanya Mengajar (Teaching) dan Melatih (Coaching)?

Coaching tujuannya ialah untuk menolong pembelajarnya (klien) untuk mencapai gol-golnya,” ujar uskup Kentjana Putra. Untuk itu dibutuhkan komunikasi yang setara antara pembelajar dan pelatih; bukan komunikasi antara orang yang lebih tinggi (guru) dan yang lebih rendah (murid). Seorang pelatih akan banyak mendengar dan sedikit berbicara (80% : 20%) untuk menolong pembelajarnya berpikir dan mengambil keputusan atau jalan keluarnya sendiri.

Sister Yoshi mengutip dari majalah Liahona bulan Januari 2015, yaitu  Pesan dari Presidensi Umum Sekolah Minggu:

1. Ajukan pertanyaan yang efektif. Lebih banyak mendengarkan dan sedikit berbicara, memberikan pengakuan, melemparkan umpan balik, mengulangi apa yang dikatakan pembelajar, dan meredakan emosi orang yang berbicara.

2. Dengarkan para pembelajar. Berfokus pada para pembelajar untuk membangun hubungan saling percaya.

3. Gunakan tulisan suci. Yesus Kristus adalah contoh seorang Pelatih Yang Agung. Perhatikan bagaimana Dia mendengarkan dan menjawab pertanyaan murid-murid-Nya.

4. Undanglah para pembelajar untuk bertindak. Dorong mereka agar lebih bersemangat, agar ide-ide dapat timbul.

5. Ingatkan berkat-berkat yang dijanjikan.

Sister Linda Subiantoro mengatakan, “Cara pelatihan ini mengingatkan saya ketika keluarga kami mengantarkan Elder Funk ke hotel sesudah dia memberikan ceramahnya di dalam pertemuan api unggun. Beliau bertanya kepada kami, ‘Pelajaran apakah yang kalian dapatkan dari pertemuan tadi?’ Hal itu membuat kami berpikir keras dan mengingat-ingat, dan memang beliau menunggu, dan akhirnya kami masing-masing dapat memberikan jawabannya.”