Lewati navigasi utama

Terus-Menerus Berpegang Erat pada Batang

Terus-Menerus Berpegang Erat pada Batang

Beberapa tahun lalu Sister Funk menghadiri pernikahan seorang keponakan perempuan di Bait Suci Cardston Alberta. Ketika di Kanada bagian Selatan, dia memiliki kesempatan untuk mendaki ke Danau Crypt di Taman Nasional Danau Waterton.

Sewaktu dia menceritakan kepada saya tentang pendakian yang indah namun menantang ke danau itu, dia menggambarkan sebagian dari pendakian tersebut dimana adalah diperlukan untuk mendaki sebuah dinding batu sepanjang permukaan sebuah tebing. Apabila seorang pendaki terpeleset, mereka dapat jatuh ratusan kaki.

Untungnya, sebuah kabel logam dilekatkan erat ke gunung itu bagi para pendaki untuk berpegangan ketika mereka mencari jalan melalui bagian yang berbahaya dari perjalanan tersebut.

Ketika Sister Funk menggambarkan pengalaman ini, dia mengatakan dia tidak dapat mencapai danau itu dan menikmati keindahan pengalaman itu tanpa pengamanan dari kabel logam tersebut. Dia terus-menerus berpegang pada batang besi itu sehingga dia dapat dengan aman mencapai tujuannya—sebuah tujuan yang sepadan dengan upayanya.

Bersama-sama kita mengamati perbandingan dari pengalaman itu dengan perjalanan kita melalui kehidupan fana. Bapa Surgawi kita Yang Pengasih telah menyediakan bumi yang indah ini bagi kita. Dengan tubuh fana kita, kita dapat menikmati banyak pengalaman indah.

Meskipun demikian, karena Dia mengetahui itu terkadang dapatlah sulit dan berbahaya, Dia menyediakan sebuah batang besi bagi kita untuk berpegangan di sepanjang perjalanan kita. Batang besi tersebut adalah firman Allah, sebagaimana diwahyukan kepada para nabi, pelihat, dan pewahyu di zaman dahulu dan di zaman kita.

Di masa awal Kitab Mormon kita belajar mengenai penglihatan Lehi tentang pohon kehidupan, “yang buahnya patut dihasratkan untuk membuat orang bahagia.[1]

Dalam penglihatan itu, terdapat tiga kelompok orang yang mendesak ke depan menuju pohon tersebut. Yang pertama mulai berada di jalan, namun kemudian mereka tersesat.[2]  Yang kedua memegang batang tersebut dan tampil serta makan buah pohon itu, namun kemudian “ mengarahkan mata mereka ke sekitarnya seolah-olah mereka malu” dan “jatuh ke jalan terlarang dan tersesat.”[3]

Saya telah mengamati tanggapan serupa di antara kedua kelompok orang. Yang pertama adalah mereka yang berminat pada Injil Yesus Kristus dan tampak berhasrat untuk belajar, namun tidak pernah membaca Kitab Mormon. Biasanya, mereka gagal untuk maju menuju perjanjian baptisan dan akhirnya kehilangan minat.

Yang kedua adalah mereka yang mulai membaca, menerima kesaksian akan kebenaran dan memasuki air baptisan, namun kemudian gagal untuk terus mengenyangkan diri dengan firman Allah. Mereka tidak mengembangkan akar yang dalam. Mereka seperti yang Juruselamat gambarkan dalam perumpamaan tentang penabur. Mereka bertumbuh namun karena mereka tidak memiliki akar, mereka bertahan hanya untuk sementara waktu dan ketika penindasan atau penganiayaan datang “mereka segera murtad.”[4]

Kelompok ketiga terdiri dari mereka yang “mendesak arah mereka ke depan, secara berkelanjutan berpegang erat pada batang dari besi itu, sampai mereka tampil dan jatuh dan makan dari pohon itu.”[5] Perhatikan bahwa kelompok ini terus-menerus berpegang erat pada batang besi itu. Sebagaimana Penatua David A. Bednar tuturkan, “Inilah kelompok yang Anda dan saya hendaknya upayakan untuk bergabung.”[6]

Nefi belajar bahwa batang besi adalah “firman Allah, yang menuntun ke sumber air hidup, atau ke pohon kehidupan” yang “adalah pelukisan dari kasih Allah.”[7] Izinkan saya menggambarkan tiga cara penting yang penelaahan serta penyelidikan tulisan suci yang reguler dan konsisten dapat membantu kita dalam upaya kita untuk tetap berada di jalan yang membawa kita lebih dekat kepada Allah.

Yang pertama adalah bahwa penelaahan tulisan suci yang konsisten dan reguler akan menolong kita merasakan Roh Tuhan. Kita mempelajari hal ini dalam pasal pertama dari Kitab Mormon. Sewaktu Lehi berdoa “demi kepentingan bangsanya” dia memperoleh penglihatan dimana “dia melihat Seseorang turun dari tengah langit” dengan “dua belas lain mengikuti-Nya” dan mereka “memberikan kepadanya sebuah kitab, dan meminta kepadanya agar hendaknya dia membaca. Dan terjadilah bahwa sewaktu dia membaca, dia dipenuhi dengan Roh Tuhan.”[8]

Kita, juga, akan merasakan Roh ketika kita membaca dari tulisan suci.

Kedua, ketika kita merenungkan tulisan suci, kita menerima ilham. Pada hari sebelum Konferensi Umum di bulan Oktober tahun 1918, Presiden Joseph F. Smith sedang bersiap untuk konferensi. Perang Dunia I telah berakhir namun lebih banyak lagi orang yang meninggal karena pandemik influenza.

Ada banyak hal yang presiden Gereja dapat lakukan pada hari itu, namun Bagian 138 dari Ajaran dan Perjanjian menggambarkan apa yang dilakukannya:  “Aku duduk di dalam ruanganku merenung tentang tulisan suci.”[9] Sewaktu dia melakukannya, memikirkan kurban pendamaian besar Juruselamat serta kasih Bapa dan Putra, dia mengingat perkataan Petrus dalam Perjanjian Baru dan membacanya.

Presiden Smith mencatat: “Ketika aku merenung tentang hal-hal ini yang tertulis, mata pengertianku dibukakan, dan Roh Tuhan berdiam di atas diriku …”[10] Dia kemudian menerima wahyu penting mengenai bagaimana Injil akan diajarkan kepada mereka di dunia roh.

Kita tidak akan menerima wahyu-wahyu bagi Gereja, namun kita dapat memperoleh jawaban terhadap doa-doa kita serta bimbingan di setiap aspek kehidupan kita sewaktu kita mengikuti pola merenungkan tulisan suci itu.

Adalah berharga untuk membaca tulisan suci secara menyeluruh, namun saya menemukan bahwa akanlah menjadi pengalaman yang secara khusus memiliki wahyu untuk “merenungkan tulisan suci” dan membiarkan perenungan saya untuk membawa saya pada pengajaran yang Roh bimbing pada saat itu.

Berkat ketiga tercakup dalam janji Moroni di akhir Kitab Mormon. Moroni mengimbau kita untuk membaca, mengingat, dan merenungkan pengajaran dari kitab tersebut dan kemudian bertanya kepada Allah dengan hati yang tulus, maksud yang sungguh-sungguh, memiliki iman kepada Kristus jika hal itu adalah benar. Dia berjanji “melalui kuasa Roh Kudus kamu boleh mengetahui kebenaran akan segala hal.”[11]

Prakata Kitab Mormon meringkas imbauan ini dan menyatakan, “Mereka yang menuruti cara ini dan bertanya dalam iman akan memperoleh kesaksian akan kebenaran dan keilahiannya [Kitab Mormon] melalui kuasa Roh Kudus.”

Kemudian menambahkan:  “Mereka yang memperoleh kesaksian ilahi ini dari Roh Kudus akan juga mengetahui melalui kuasa yang sama bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia, bahwa Joseph Smith adalah pewahyu dan nabi-Nya pada zaman terakhir ini, dan bahwa Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir adalah kerajaan Tuhan yang sekali lagi ditegakkan di atas bumi …”

Bapa Surgawi kita Yang Pengasih telah menciptakan dunia yang indah untuk kita tinggali; meskipun demikian, itu bukanlah tanpa jalan kesulitan dan tantangan untuk didaki. Karena kasih-Nya bagi kita, Dia telah menyediakan batang dari besi—tulisan suci dan perkataan para nabi yang hidup.

Sewaktu kita terus-menerus berpegang erat pada firman Allah, kita dapat merasakan kasih-Nya, memperoleh ilham yang diperlukan, memperdalam keinsafan kita, dan dengan aman mencapai tujuan kita akan kehidupan kekal.


  1. Lihat 1 Nefi 8:10

  2. Lihat 1 Nefi 8:21-23

  3. Lihat 1 Nefi 8:24-28

  4. Markus 4:17

  5. 1 Nefi 8:30

  6. Lihat David A. Bednar, “A Reservoir of Living Water” (api unggun Church Educational System untuk dewasa muda, 4 Februari 2007), lds.org/broadcasts/archive/ces-devotionals/2007/01

  7. 1 Nefi 11:25

  8. Lihat 1 Nefi 1:5, 9-12

  9. Ajaran dan Perjanjian 138:1

  10. Ajaran dan Perjanjian 138:11

  11. Moroni 10:5